:: iki dipijet ojo dijarno ae !
Wong Jowo

27 October 2005

[arek-suroboyo] Belajar Ekonomi dari Cina

Cina berkembang dengan pesat, ini sangat mengejutkan. Namun tidak
bagi orang yang mau sedikit saja berpikir. Cadangan devisa Cina yang
hampir mencapai 1000 milyar dollar telah membuat dunia barat kalang
kabut. Upaya meminta revaluasi yuan hanya dinaikkan sedikit saja.
Cara lain yang ditempuh adalah menaikkan harga minyak dipasaran
internasional yang kelihatannya juga tak membuat cina bergeming.

Dibalik itu semua, bagaimanapun juga cina adalah negara komunis.
Negara yang diajarkan tidak adanya added price dan sangat paham
betul pentingnya sebuah nasionalis.

Bagaimana Cina menguasai begitu besar cadangan devisa ?

Ambilah contoh, anda sebagai pengusaha tekstil di Indonesia. Harga
jual yang anda butuhkan dengan harga BBM, Listrik serta
infrastruktur yang buruk serta kutipan disana-sini anda bisa jual
per meter kain seharga 30.000 rupiah.

Cina, karena tidak menerapkan added price dia bisa jual dengan harga
6.000 rupiah per meternya. 5.000 adalah biaya produksi dan seribu
adalah keuntungan... cukup. Rp. 1.000 perak adalah tambahan devisa
untuk cina. Maka dijualah produk Cina di negara kita dengan merek
dagang yang anda ingini. Misalnya menggunakan merek Indonesia.
Sebagai pengusaha, tentu anda senang. Harga produksi yang tadinya
28.000 dengan margin keuntungan 2.000 permeter anda bisa dapat
keuntungan sebesar Rp. 24.000,- dimana 6.000 anda bayarkan ke Cina.
Anda akan merasa senang karena memperoleh margin yang besar dan
bebas dari berbagai macam masalah seperti infrastruktur yang jelek
serta berbagai ragam kutipan atau pungli, maka anda tutuplah pebrik
di Indonesia.

Saat kebutuhan pasar anda meningkat, maka anda mau tidak mau akan
melakukan investasi di Cina. Nah disinilah masalahnya. Anda hanya
bawa uang tanpa bawa teknologi dan Tenaga Kerja. Maka uang yang anda
bawa murni penambahan devisa Cina.

Perbedaan dengan investasi PMA yang ada  di Indonesia adalah  ketika
anda bikin pinjaman katakanlah 50 juta US dollar, sebagian besar
investasi tersebut anda belanjakan teknologi dan tenaga ahli dari
luar, maka yang tersisa adalah pembebasan tanah dan bangunan sipil
saja. Dengan pola yang demikian maka tak ada devisa yang nambah.

Yang terjadi kemudian adalah beban pembayaran mata uang asing yang
terus membengkak. Maka yang jadi korban sebenarnya adalah pengguna
mata uang rupiah yang akan terus terdepresiasi sejalan dengan
meningkatnya mata uang asing.

Maka tak mengherankan bahwa eksport kita 200 % dari yang kita
import, namun cadangan devisa kita tetap saja tipis.

Salam

RM





---------------------------------------
Nek gak ngormati  homepage resmi ASU sing isine MAT PITHI <http://matpithi.freewebsitehosting.com>: Sumpah, isok ciloko, dan merupakan sebuah duso berat, kuwalat, isok koyok jambu mente.

Sebab tilis eh.. milis iki gerombolane para asune Mat Pithi... sumpah... sebagian besar nggota DPP PARTOGI: Partai Orang Gila




YAHOO! GROUPS LINKS






ditulisdening.... x |


« Home | [arek-suroboyo] Gotong Royong di Era Globalisasi » //-->





Add a comment:

Name
Website   Html allowed : <a>, <b>, <i>

 


Go to bataks

 © Wong Jowo 2005 - ditulung karo Blogger Templates kanggo Blogger

kapal keruk taline kenceng...ndelo' 'x' manu'e ngaceng...Jarik lurik suwek pinggire....nDelok 'x' ngadeg anune....Sing temping ra' penti'e to mas ?....Sa'bejo-bejane wong lali...isih bejo wong sing nulis blog lan ng-update terus