:: iki dipijet ojo dijarno ae !
Wong Jowo

28 October 2005

[priyayi_jowo] Re: Sayap 084-087

gak percoyo...
lagi OL ro tekek.... doh entuk salam.......
----- Original Message -----
From: Widodo (GGPC/JKT)
To: 'agus.priyono' ; Teguh S Nugraha ; Wiwit Mbatam ; wahyu-UGM ; Trie Winarso - Sragen ; Nurul menthul menthul ; Munyuk Elek ; Mona ; Kris - PKI-Never Ever ; Inneke Koesherawati ; Fitasya Anshelia <anshelia ; Emprith Teking ; Dhe Pras ; Cak Nir ; Cak Gendhon's ; cah STEMBAYO'94 ; Budi - Tukang Nyu- SuSu Perawan ; Boneng Tukang Semen ; Bly widi ; Rachma ; PJ
Sent: Friday, October 28, 2005 8:17 AM
Subject: RE: Sayap 084-087

Mbel  GEDESSS !!!

Jarene sahur nganggo Indomie goreng rong bungkus ..

Ojo mbujuk  Koun,POO

 

-----Original Message-----
From: agus.priyono [mailto:agus.priyono@kmk.co.id]
Sent:
Friday, October 28, 2005 8:01 AM
To: Teguh S Nugraha; Wiwit Mbatam; wahyu-UGM; Trie Winarso - Sragen; Nurul menthul menthul; Munyuk Elek; Mona; Kris - PKI-Never Ever; Inneke Koesherawati; Fitasya Anshelia <anshelia; Emprith Teking; Dhe Pras; Cak Nir; Cak Gendhon's; Cak Dodo; cah STEMBAYO'94; Budi - Tukang Nyu- SuSu Perawan; Boneng Tukang Semen; Bly widi; Rachma; PJ
Subject: Re: Sayap 084-087

 

heee.. lah aku malah mung air putih thok......

kebablasan ngor ... sing penting nawaitu ngor !!!.

 

----- Original Message -----

Sent: Friday, October 28, 2005 7:58 AM

Subject: Re: Sayap 084-087

 

pagi dak...pagi all....

 

wetengku mules ki...sahur bur nggo energen karo apel....

eee..ususe kaget...

melilit koyo ngene...

ditambani soto ayam...sembuh kalik ya ?

 

 

 

----- Original Message -----

From: agus.priyono

Sent: Friday, October 28, 2005 7:47 AM

Subject: Sayap 084-087

 

 

Tuesday, 25 October 2005, SH Mintardja (Cerbung) -
Sayap Sayap yang Terkembang 084 
  


 Kiai Windu tidak segera menjawab. Sekilas dipandanginya kawan-kawannya. Sementara itu salah seorang di antara mereka yang membawa pedang berkata, "Kau kira jika kau sudah masuk ke Song Lawa tidak akan menemui kesulitan?" 

"Kami akan mengatasi kesulitan itu," berkata Sambi Wulung. 

Keempat orang itu termangu-mangu. Tetapi mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Mereka tidak akan dapat mengalahkan kedua orang itu. Bukan saja mereka tidak ingin kehilangan kudanya, tetapi mereka juga tidak mau kehilangan nyawanya. 

Beberapa saat keempat orang itu masih ragu-ragu. Sementara Jati Wulung membentak semakin keras, "Jawab, atau aku harus mengambil langkah sendiri, membawa kuda-kuda kalian ke Song Lawa." 

Kiai Windulah yang kemudian menjawab. Katanya, "Baiklah. Kami akan menanggung kalian memasuki Song Lawa itu. Tetapi apa yang terjadi kemudian bukan tanggung jawab kami." 

"Jika kami dapat memasuki Song Lawa, maka kami akan bertanggung jawab atas diri kami sendiri," berkata Sambi Wulung. Lalu, "Bahkan jika kami menang seperti yang biasa kami alami, maka kami akan memberikan bagian kepada kalian berempat, sepadan dengan jumlah kemenangan kami." 

Kiai Windu itu mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Marilah. Ikut kami." 

"Kita akan berjalan kaki," berkata Sambi Wulung. "Tidak seorang pun di antara kita yang akan naik kuda. Kalian harus menuntun kuda-kuda kalian." 

Keempat orang itu tidak dapat menolak. Karena itu Kiai Windu itu pun berkata, "Kau akan menyesal setelah kau berada di dalam lingkungan sabung ayam itu." 

"Kalian tidak perlu berkhianat," berkata Sambi Wulung. "Jika hal itu terjadi dengan sendirinya, kami akan mengatasinya. Tetapi jika hal itu terjadi karena pengkhianatan kalian, maka kalian berempat akan mati." 

"Setidak-tidaknya kalian berempat tidak dapat mengalahkan kami," jawab Jati Wulung. 

Orang itu pun tidak menjawab lagi. Sementara itu, keempat orang itu pun telah melangkah mendekati kudanya. 

"Marilah," berkata Kiai Windu. 

Sesaat kemudian mereka berenam pun telah melanjutkan perjalanan.

Ternyata jarak ke Song Lawa sudah tidak terlalu jauh lagi. Beberapa saat kemudian, Kiai Badra dan Kiai Soka yang meneruskan perjalanan mereka, segera melihat ciri-ciri dari satu lingkungan terpisah dari dunia lain dengan kebiasaan tersendiri. Song Lawa. 

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mempergunakan cara yang sesuai dengan lingkungan yang akan didatanginya," berkata Kiai Badra. 

"Ya. Sampai disini agaknya ia berhasil," sahut Kiai Soka. "Mudah-mudahan ia tidak mengalami kesulitan." 

"Tidak mengalami kesulitan dan tidak dikenali oleh orang-orang yang mengawal laki-laki remaja yang bernama Puguh itu," sahut Kiai Badra. 

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berdesis, "Kita harus sangat berhati-hati. Mungkin pengawalan tempat itu menyebar sampai jarak yang cukup jauh." 

"Ya. Agaknya memang demikian," sahut Kiai Badra sambil menunjuk dua orang bersenjata yang berjalan beberapa puluh langkah dihadapan mereka.

Keduanya pun bersembunyi di balik batang-batang perdu. Namun mereka berusaha untuk dapat melihat lingkungan yang terasing itu. 

Agaknya keduanya beruntung berada di tempat yang agak lebih tinggi dari jalur jalan yang menuju dan kemudian memasuki lingkungan yang disebut Song Lawa itu. Ternyata di jalur jalan itu mereka melihat pintu-pintu gerbang yang berlapis. Kemudian pagar yang bersap pula. Pagar yang terbuat dari kayu yang dijajar rapat lebih tinggi dari tubuh seseorang. Pada lapis ketiga pagar itu menjadi lebih tinggi. (Bersambung)-m.

 

Wednesday, 26 October 2005, SH Mintardja (Cerbung) -
Sayap-Sayap Yang Terkembang 085 
  


 Dari tempat yang agak lebih tinggi, Kiai Badra dan Kiai Soka sempat melihat keadaan di dalam lapis-lapis pagar itu. Di lapis kedua Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tertahan bersama keempat orang yang berkuda itu.  Agaknya para penjaga pintu gerbang itu tidak memberikan ijin kepada Kiai Windu dan kawan-kawannya untuk membawa kuda mereka masuk.  

Ternyata bahwa mereka telah mengikat kuda-kuda mereka di patok-patok yang sudah tersedia. Disebelahnya sudah terdapat beberapa ekor kuda yang lain, yang telah datang lebih dahulu. 

Kiai Badra dan Kiai Soka ikut menjadi tegang ketika melihat mereka berenam berdiri dimuka pintu gerbang. Beberapa orang penjaga yang garang nampaknya dengan teliti mengamati mereka seorang demi seorang. 

Dari jarak yang cukup jauh, Kiai Badra dan Kiai Soka tidak dapat melihat terlalu jelas apa yang terjadi. Meskipun mereka adalah orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui orang-orang kebanyakan. 

Dalam pada itu, di depan pintu gerbang pada lapis yang ketiga, Kiai Windu dan kawan-kawannya telah menunjukkan pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah dianggap keluarga di lingkungan sabung ayam itu. Mereka dapat menunjukkan sebuah tanda yang terbuat dari perunggu berbentuk bulat. Ditengah-tengahnya dipahatkan gambar seekor ayam jantan dengan kepala tegak. Kemudian beberapa ciri yang khusus terpahat dibawah gambar ayam itu. 

"Bagaimana dengan kedua orang ini?" bertanya penjaga pintu gerbang. 

Kiai Windu termangu-mangu sejenak. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi tegang. Mereka berdiri dekat dibelakang keempat orang berkuda yang akan menanggung mereka memasuki tempat yang mendebarkan itu. 

Namun Kiai Windu pun kemudian berkata, "Mereka adalah orang-orang baru. Kami berempat menanggung mereka selama mereka berada di tempat itu." 

"Apa jaminannya?" bertanya penjaga yang garang itu. 

"Kami berempat," jawab Kiai Windu. 

Penjaga itu mengangguk-angguk. Sementara itu para penjaga yang lain nampaknya menaruh perhatian pula kepada mereka. 

Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri hanya menunggu keputusan mereka. Apakah mereka diperkenankan memasuki daerah itu atau tidak. 

Namun agaknya pemimpin dari para petugas dipintu itu tidak mau bertanggung jawab sendiri. Karena itu, maka pemimpin penjaga pintu gerbang itu berkata, "Tunggulah disini. Aku akan melaporkannya." 

Keenam orang itu harus menunggu. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat memaksa untuk memasuki gerbang itu. Mereka tidak dapat memancing persoalan justru sebelum mereka berada di dalam. 

Sementara pemimpin penjaga itu melaporkan kehadiran mereka, keenam orang itu telah bergeser menepi. Kiai Windu sempat berdesis kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Kau dengar. Kami berempatlah yang menjadi tanggungan kami. Jika kalian berbuat sesuatu yang kurang baik disini, kami berempat akan ikut diperlakukan buruk. Kita di tempat ini tidak dapat memamerkan kemampuan dan ilmu kita. Disini terlalu banyak orang berilmu tinggi. Meskipun aku akui, ilmu kalian berdua ternyata lebih tinggi dari yang aku duga, tetapi setiap pelanggaran ketentuan yang berlaku disini, akan menimbulkan melapetaka." (Bersambung)-m

 

 

Friday, 28 October 2005, SH Mintardja (Cerbung) -
Sayap Sayap yang Terkembang 087 
  


 KIAI WINDU tertawa. Katanya, "Mereka orang-orang baik."  Kedua orang berjambang itu kemudian telah mempersilakan Kiai Windu berenam untuk memasuki pintu gerbang. Sementara itu orang berjambang itu pun berkata, "Hanya bila kami sudah yakin bahwa mereka tidak akan merugikan Song Lawa, maka kami akan memberikan pertanda keluarga. Aku belum tahu berapa pekan ia kerasan tinggal disini untuk seterusnya, maka ia akan dapat menjadi kawan yang sangat baik bagi kami. Tetapi atas tanggungan Kiai."  

Kiai Windu tersenyum. Betapa kecutnya. Namun ia memang berharap bahwa kedua orang itu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menyeret namanya ke dalam kesulitan. 

Dari kejauhan Kiai Badra dan Kiai Soka melihat bahwa keenam orang itu telah memasuki pintu gerbang utama. Sambil menarik nafas dalam-dalam Kiai Badra berdesis, "Pintu kesulitan pertama telah dilewati." 

"Masih banyak masalah yang akan mereka hadapi," sahut Kiai Soka. 

"Ya. Dan kita tidak akan dapat mengikuti dari jarak yang jauh ini. Apalagi jika malam gelap," berkata Kiai Badra. 

"Di malam hari kita akan mendekat," gumam Kiai Soka. "Tetapi di siang hari kita dapat berada disini. Jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Dari tempat yang tinggi ini kita dapat melihat keseluruhan lingkungan Song Lawa."

"Tetapi kita tidak dapat melihat apa yang terjadi dibawah atap barak-barak yang berserakan di dalam lingkungan dinding kayu itu," jawab Kiai Badra. 

Kiai Soka pun segera tanggap. Karena itu katanya, "Kau bermaksud memasuki tempat itu di malam hari?" 

Kiai Badra tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan katanya, "Mereka telah hilang. Mereka memasuki salah satu barak yang ada di dalam lingkungan Song Lawa." 

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, "Barak-barak itu tentu mempunyai beban tugas yang berbeda-beda." 

"Agaknya memang demikian," jawab Kiai Badra. "Yang satu untuk bermalam orang-orang yang memasuki tempat itu. Dan itu agaknya yang paling panjang itu. Satu lagi untuk berjudi. Satu lagi menyediakan makan dan minum. Tidak bedanya dengan sebuah kedai. Dan entah untuk apa lagi. Yang berasap itu tentu dapur." 

Kiai Soka tersenyum. Katanya, "Agaknya dapur itulah yang paling kau kenal." 

"Bukankah itu lebih baik daripada mengenali tanah kosong di bagian belakang barak-barak itu," sahut Kiai Badra sambil tertawa. 

"Itulah yang mengerikan," berkata Kiai Soka. Orang tua itu tidak tersenyum lagi. Bahkan wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Katanya, "Berapa orang yang sudah dikubur ditempat itu?" 

"Itu adalah gambaran kehidupan di lingkungan ini," berkata Kiai Badra. "Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat mengatasinya." 

"Seharusnya jika mereka sudah berhasil memasuki lingkungan itu, mereka tidak usah berbuat aneh-aneh agar mereka mendapat kesempatan untuk tetap berada di dalamnya," desis Kiai Soka. "Jika mereka berdua masih memaksa diri untuk bertingkah-laku kasar, maka mereka akan dapat dilemparkan ke lubang kubur di tanah kosong itu." 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan keduanya cukup bijaksana." 

Kiai Soka tidak menjawab. 

Untuk beberapa saat mereka masih mengawasi tempat sabung ayam itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu. Mereka melihat arena sabung ayam di halaman tengah yang kosong. Agaknya sabung ayam itu masih belum dimulai dalam satu dua hari lagi." 

Satu dua orang memang nampak melintas di halaman, sementara ada lagi dua orang peronda yang mengelilingi tempat itu. Namun belum ada kesan kesibukan yang berarti. (Bersambung)-m.

 



- Arep nggabung : priyayi_jowo-subscribe@yahoogroups.com
- Pengin ora oleh kiriman semantara : priyayi_jowo-nomail@yahoogroups.com
- Pengin ngaktifke meneh :priyayi_jowo-normal@yahoogroups.com
- Ora oleh nggo boso selain boso Jowo utowo boso Indonesia (nglanggar 3 X, dibanned soko millis)








SPONSORED LINKS
Girl friend Friends Friend and lover
Tell a friend Girl friend gifts Find a friend


YAHOO! GROUPS LINKS






ditulisdening.... x |


« Home | [priyayi_jowo] Re: Sayap 084-087 » //-->





Add a comment:

Name
Website   Html allowed : <a>, <b>, <i>

 


Go to bataks

 © Wong Jowo 2005 - ditulung karo Blogger Templates kanggo Blogger

kapal keruk taline kenceng...ndelo' 'x' manu'e ngaceng...Jarik lurik suwek pinggire....nDelok 'x' ngadeg anune....Sing temping ra' penti'e to mas ?....Sa'bejo-bejane wong lali...isih bejo wong sing nulis blog lan ng-update terus