sugeng enjing ugi bli...
086e nya mboten di update KR bli... ngapunten
----- Original Message -----From: WidiTo: agus.priyonoCc: Wiwit Mbatam ; wahyu-UGM ; Trie Winarso - Sragen ; Teguh Bangor cemen Banget ; Nurul menthul menthul ; Munyuk Elek ; Mona ; Kris - PKI-Never Ever ; Inneke Koesherawati ; Fitasya Anshelia <anshelia ; Emprith Teking ; Dhe Pras ; Cak Nir ; Cak Gendhon's ; Cak Dodo ; cah STEMBAYO'94 ; Budi - Tukang Nyu- SuSu Perawan ; Boneng Tukang Semen ; Rachma ; PJSent: Friday, October 28, 2005 8:48 AMSubject: [priyayi_jowo] Re: Sayap 084-087086e endi ?sugeng enjing
On 10/28/05, agus.priyono <agus.priyono@kmk.co.id> wrote:
Tuesday, 25 October 2005, SH Mintardja (Cerbung) -
Sayap Sayap yang Terkembang 084
Wednesday, 26 October 2005, SH Mintardja (Cerbung) -
Sayap-Sayap Yang Terkembang 085
Dari tempat yang agak lebih tinggi, Kiai Badra dan Kiai Soka sempat melihat keadaan di dalam lapis-lapis pagar itu. Di lapis kedua Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tertahan bersama keempat orang yang berkuda itu. Agaknya para penjaga pintu gerbang itu tidak memberikan ijin kepada Kiai Windu dan kawan-kawannya untuk membawa kuda mereka masuk.
Ternyata bahwa mereka telah mengikat kuda-kuda mereka di patok-patok yang sudah tersedia. Disebelahnya sudah terdapat beberapa ekor kuda yang lain, yang telah datang lebih dahulu.
Kiai Badra dan Kiai Soka ikut menjadi tegang ketika melihat mereka berenam berdiri dimuka pintu gerbang. Beberapa orang penjaga yang garang nampaknya dengan teliti mengamati mereka seorang demi seorang.
Dari jarak yang cukup jauh, Kiai Badra dan Kiai Soka tidak dapat melihat terlalu jelas apa yang terjadi. Meskipun mereka adalah orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui orang-orang kebanyakan.
Dalam pada itu, di depan pintu gerbang pada lapis yang ketiga, Kiai Windu dan kawan-kawannya telah menunjukkan pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah dianggap keluarga di lingkungan sabung ayam itu. Mereka dapat menunjukkan sebuah tanda yang terbuat dari perunggu berbentuk bulat. Ditengah-tengahnya dipahatkan gambar seekor ayam jantan dengan kepala tegak. Kemudian beberapa ciri yang khusus terpahat dibawah gambar ayam itu.
"Bagaimana dengan kedua orang ini?" bertanya penjaga pintu gerbang.
Kiai Windu termangu-mangu sejenak. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi tegang. Mereka berdiri dekat dibelakang keempat orang berkuda yang akan menanggung mereka memasuki tempat yang mendebarkan itu.
Namun Kiai Windu pun kemudian berkata, "Mereka adalah orang-orang baru. Kami berempat menanggung mereka selama mereka berada di tempat itu."
"Apa jaminannya?" bertanya penjaga yang garang itu.
"Kami berempat," jawab Kiai Windu.
Penjaga itu mengangguk-angguk. Sementara itu para penjaga yang lain nampaknya menaruh perhatian pula kepada mereka.
Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri hanya menunggu keputusan mereka. Apakah mereka diperkenankan memasuki daerah itu atau tidak.
Namun agaknya pemimpin dari para petugas dipintu itu tidak mau bertanggung jawab sendiri. Karena itu, maka pemimpin penjaga pintu gerbang itu berkata, "Tunggulah disini. Aku akan melaporkannya."
Keenam orang itu harus menunggu. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat memaksa untuk memasuki gerbang itu. Mereka tidak dapat memancing persoalan justru sebelum mereka berada di dalam.
Sementara pemimpin penjaga itu melaporkan kehadiran mereka, keenam orang itu telah bergeser menepi. Kiai Windu sempat berdesis kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. "Kau dengar. Kami berempatlah yang menjadi tanggungan kami. Jika kalian berbuat sesuatu yang kurang baik disini, kami berempat akan ikut diperlakukan buruk. Kita di tempat ini tidak dapat memamerkan kemampuan dan ilmu kita. Disini terlalu banyak orang berilmu tinggi. Meskipun aku akui, ilmu kalian berdua ternyata lebih tinggi dari yang aku duga, tetapi setiap pelanggaran ketentuan yang berlaku disini, akan menimbulkan melapetaka." (Bersambung)-m
Friday, 28 October 2005, SH Mintardja (Cerbung) -
Sayap Sayap yang Terkembang 087
KIAI WINDU tertawa. Katanya, "Mereka orang-orang baik." Kedua orang berjambang itu kemudian telah mempersilakan Kiai Windu berenam untuk memasuki pintu gerbang. Sementara itu orang berjambang itu pun berkata, "Hanya bila kami sudah yakin bahwa mereka tidak akan merugikan Song Lawa, maka kami akan memberikan pertanda keluarga. Aku belum tahu berapa pekan ia kerasan tinggal disini untuk seterusnya, maka ia akan dapat menjadi kawan yang sangat baik bagi kami. Tetapi atas tanggungan Kiai."
Kiai Windu tersenyum. Betapa kecutnya. Namun ia memang berharap bahwa kedua orang itu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menyeret namanya ke dalam kesulitan.
Dari kejauhan Kiai Badra dan Kiai Soka melihat bahwa keenam orang itu telah memasuki pintu gerbang utama. Sambil menarik nafas dalam-dalam Kiai Badra berdesis, "Pintu kesulitan pertama telah dilewati."
"Masih banyak masalah yang akan mereka hadapi," sahut Kiai Soka.
"Ya. Dan kita tidak akan dapat mengikuti dari jarak yang jauh ini. Apalagi jika malam gelap," berkata Kiai Badra.
"Di malam hari kita akan mendekat," gumam Kiai Soka. "Tetapi di siang hari kita dapat berada disini. Jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Dari tempat yang tinggi ini kita dapat melihat keseluruhan lingkungan Song Lawa."
"Tetapi kita tidak dapat melihat apa yang terjadi dibawah atap barak-barak yang berserakan di dalam lingkungan dinding kayu itu," jawab Kiai Badra.
Kiai Soka pun segera tanggap. Karena itu katanya, "Kau bermaksud memasuki tempat itu di malam hari?"
Kiai Badra tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan katanya, "Mereka telah hilang. Mereka memasuki salah satu barak yang ada di dalam lingkungan Song Lawa."
Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, "Barak-barak itu tentu mempunyai beban tugas yang berbeda-beda."
"Agaknya memang demikian," jawab Kiai Badra. "Yang satu untuk bermalam orang-orang yang memasuki tempat itu. Dan itu agaknya yang paling panjang itu. Satu lagi untuk berjudi. Satu lagi menyediakan makan dan minum. Tidak bedanya dengan sebuah kedai. Dan entah untuk apa lagi. Yang berasap itu tentu dapur."
Kiai Soka tersenyum. Katanya, "Agaknya dapur itulah yang paling kau kenal."
"Bukankah itu lebih baik daripada mengenali tanah kosong di bagian belakang barak-barak itu," sahut Kiai Badra sambil tertawa.
"Itulah yang mengerikan," berkata Kiai Soka. Orang tua itu tidak tersenyum lagi. Bahkan wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Katanya, "Berapa orang yang sudah dikubur ditempat itu?"
"Itu adalah gambaran kehidupan di lingkungan ini," berkata Kiai Badra. "Mudah-mudahan Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat mengatasinya."
"Seharusnya jika mereka sudah berhasil memasuki lingkungan itu, mereka tidak usah berbuat aneh-aneh agar mereka mendapat kesempatan untuk tetap berada di dalamnya," desis Kiai Soka. "Jika mereka berdua masih memaksa diri untuk bertingkah-laku kasar, maka mereka akan dapat dilemparkan ke lubang kubur di tanah kosong itu."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan keduanya cukup bijaksana."
Kiai Soka tidak menjawab.
Untuk beberapa saat mereka masih mengawasi tempat sabung ayam itu. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu. Mereka melihat arena sabung ayam di halaman tengah yang kosong. Agaknya sabung ayam itu masih belum dimulai dalam satu dua hari lagi."
Satu dua orang memang nampak melintas di halaman, sementara ada lagi dua orang peronda yang mengelilingi tempat itu. Namun belum ada kesan kesibukan yang berarti. (Bersambung)-m.
- Arep nggabung : priyayi_jowo-subscribe@yahoogroups.com
- Pengin ora oleh kiriman semantara : priyayi_jowo-nomail@yahoogroups.com
- Pengin ngaktifke meneh :priyayi_jowo-normal@yahoogroups.com
- Ora oleh nggo boso selain boso Jowo utowo boso Indonesia (nglanggar 3 X, dibanned soko millis)
SPONSORED LINKS
Girl friend Friends Friend and lover Tell a friend Girl friend gifts Find a friend
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "priyayi_jowo" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
priyayi_jowo-unsubscribe@yahoogroups.com
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
ditulisdening.... x |
« Home | [priyayi_jowo] Re: Sayap 084-087 » //-->
Add a comment:

